Suarkalsel, Tanah Bumbu – Desy Purwasih, perempuan asal Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar doktor pertama dari wilayah tersebut setelah menuntaskan sidang promosi doktor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Perempuan kelahiran Desember 1997 ini berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji dan meraih predikat pujian tertinggi (suma cum laude). Ia dinyatakan lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dalam masa studi 36 bulan atau tiga tahun.
“Alhamdulillah, bisa sampai ke titik ini. Momen yang sangat bermakna bagi saya. Bukan hanya capaian akademik, tapi juga perjalanan panjang yang penuh proses, pengorbanan, doa, dan pembelajaran hidup,” ujar Desy saat dihubungi, Rabu (28/1/2026).
Dalam sidang tersebut, Desy memaparkan disertasi berjudul pengembangan model pembelajaran Project Creative Pedagogy (PCP) terintegrasi etnosains Sekaten untuk meningkatkan design thinking skill dan scientific argumentation. Penelitiannya diuji oleh empat guru besar dengan berbagai keahlian keilmuan, serta didampingi promotor dan ko-promotor.
Desy menjelaskan, pembelajaran sains tidak harus selalu dilakukan di laboratorium, tetapi juga dapat dikaitkan dengan budaya lokal. Menurutnya, budaya seperti upacara Sekaten dapat menjadi media pembelajaran sains yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus sarana pelestarian budaya.
“Mengkombinasikan pembelajaran berbasis proyek dan etnosains dapat membekali calon pendidik agar lebih peduli terhadap kelestarian budaya serta kreatif dalam mendesain pembelajaran IPA,” ujarnya.
Selama menempuh studi doktoral, Desy juga mencatatkan prestasi akademik dengan mempublikasikan empat artikel di jurnal internasional terindeks Scopus, terdiri atas dua jurnal kuartil Q1 dan dua Q3. Selain itu, ia menghasilkan sembilan artikel prosiding terindeks Scopus serta lebih dari 10 artikel di jurnal nasional bereputasi terindeks Sinta.
Pencapaian tersebut, menurut Desy, tidak terlepas dari dukungan suami, orang tua, keluarga, para dosen, beasiswa S3 UNY, dana penelitian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta berbagai pihak lainnya.
Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana di kawasan transmigrasi Mantewe dan tidak pernah membayangkan dapat meraih gelar doktor. Namun, capaian ini menjadi awal untuk terus belajar dan berkontribusi lebih luas.
Motivasi terbesarnya adalah keinginan mengangkat derajat orang tua serta membuktikan bahwa perempuan dari keluarga sederhana memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.
“Kepada pemuda Tanah Bumbu, jangan takut bersekolah sampai jenjang tertinggi dan bermimpi setinggi langit. Semoga semakin banyak pemuda yang mau belajar dan membawa perubahan bagi pendidikan Indonesia,” pesannya.
